Ini adalah sebuah kata yang mudah sekaligus sulit. Sering kita mendengar orang berkata, kamu ngomong gak pake logika. Namun logika dalam hal ini adalah logika dalam arti sempit, yaitu logika sebagai sebuah ilmu yang membahas tentang ketertiban cara berpikir. Ilmu ini umumnya dikenal lewat mata pelajaran matematika. Namun porsinya sedikit sekali, mungkin kurang dari 1%. Yang belajar ilmu komputer mungkin dapat tambahan porsi logika lagi dalam bab aljabar boolean. Bagi sebagian besar dari kita, logika sebagai pelajaran hampir tidak membekas.
Logika sesungguhnya adalah sebuah seni berpikir yang sangat mendasar, yang dulunya, umumnya di abad pertengahan yang sangat Aristotelean, menjadi dasar yang sangat penting bagi seseorang untuk menjadi seorang terpelajar. Mungkin karena ilmu logika sendiri yang memang mengalami kemunduran pasca terbitnya Principia Mathematica, salah satu magnus opus matematika terakhir, oleh Bertrand Russel dan Alfred N. Whitehead, dan direduksinya ilmu logika menjadi sekedar aljabar boolean yang hanya membahas angka 1 dan 0 untuk keperluan komputasi. Di luar jurusan komputer, mungkin ilmu logika hanya dipelajari secara serius di jurusan filsafat.
Ilmu logika adalah sebuah bagian yang penting dari sebuah proses pembelajaran. Di dalam pendidikan klasik, ilmu logika dipelajari di tahap SMP (detilnya lihat di sini), yang memberikan dasar berpikir untuk dikembangkan lebih lanjut di SMA. Ilmu logika yang diajarkan di level SMP tidaklah dengan logika di dalam pelajaran matematika, yang adalah logika modern. Logika yang diberikan adalah logika tradisional, logika Aristoteles. Dengan bekal logika, mereka bisa belajar berpikir lurus, logis, sahih. Mereka tidak akan jatuh ke dalam kesesatan-kesesatan berpikir yang banyak sekali kita lihat di orang-orang yang katanya pintar di media massa. Secara keseluruhan ilmu logika cukup luas, sehingga harus dipisahkan menjadi mata pelajaran tersendiri, di luar matematika, dan diberikan di kelas 1 SMP. Sayangnya tidak ada buku logika tradisional yang tersedia dalam bahasa Indonesia yang cukup gamblang untuk bisa dicerna anak SMP. Resource bisa diperoleh di internet misalnya di sini. Kalau bisa lebih baik membeli buku di internet, misalnya buku ini.
Contoh ketrampilan logika misalnya seperti ini:
Seorang berkata bahwa semua orang Jawa tulen suka makanan manis. Temannya membantah bahwa dia orang Jawa tulen, tapi gak suka manis. Ia membalas mengatakan bahwa temannya bukan orang Jawa tulen, karena tidak suka manis :p
Kesalahan berpikir di atas tidak dapat dibenarkan karena melanggar prinsip-prinsip logika. Ini adalah sesat pikir yang dikenal dengan No true Scotsman.
Contoh lain:
Dua orang anak berdebat tentang perintah Tuhan. Dari mana kamu tahu bahwa itu perintah itu benar? Karena itu dari Tuhan. Dari mana kamu tahu kalau perintah Tuhan pasti benar? Karena Tuhan pasti benar!
Yang dilakukan di atas adalah logika melingkar. Dan itu juga kesesatan berpikir.
Ingin anak Anda bisa berpikir lurus? Ajarkanlah logika.
Desember 13, 2007 at 2:42 pm
Wah baru berapa posting saja sudah menarik…bisa-bisa nanti aku ikut antri minta anakku homeschooling.
Tapi aku lebih senang mereka belajar beramai-ramai supaya belajar EQ dan empati secara langsung (peer empathy). Entah ya kalau SMP atau SMA…
April 8, 2008 at 6:38 am
Maau tanya, ini Oni anak filsafat UGM akt ‘89?
Kalau ya, salam dari wagiman
Mei 19, 2008 at 5:25 am
iya…
emang sekarang kita lebih memainkan logika daripada perasaan…
cuma…
sayangnya belum ada panduan yang tepat bagaimana memahami ‘pola berpikir rasional’ yang berkaitan dengan logika itu sendiri…
semangat deh…
tulisan ini sangat membantu
keep on moving…
Juni 12, 2008 at 2:05 am
Sejak awal kuliah S1 saya suka membaca buku2 filsafat, khususnya tentang logika. Masa itu saya cukup sering menjumpai bahwa beberapa perkelahian di masyarakat terjadi karena terdapatnya ketaklurusan bernalar. Bahkan kini pun, kerap saya baca di koran-lokal tentang kasus pembunuhan dan demonstrasi yang dipicu oleh pengacauan logika oleh oknum tertentu. Kadang saya curiga bahwa lepasnya Pulau Sipadan dan Ligitan ke tangan Malaysia adalah karena pemerintah kita lemah dalam berlogika atau mungkin karena pemerintah Malaysia jago berlogika. Secara pribadi, saya merasakan kegunaan logika ketika saya membuat tugas akhir, menghadapi wawancara pekerjaan, menyelesaikan tugas kantor, merebut perhatian dan simpati calon istri dan mertua, menata hati di saat menghadapi penolakan atau umpatan, serta memimpin organisasi dan mengendalikan para demonstran. Logika yang saya maksud tersebut adalah logika bahasa yang tidak saya jumpai dalam logika matematika yang merupakan perangkat kerja saya di bidang ilmu fisika.
Pak atau Bu (?), secara moril saya mendukung penerjemahan buku tersebut. Dan, secara pribadi saya akan menjadi pembeli pertama jika buku itu telah masuk ke toko buku Gramedia, karena saya sebagai manusia harus selalu bercermin: penalaran saya mungkin telah berbelak-belok akibat telah melupakan tujuan luhur logika: benar-salah daripada hanya mensasar: baik-buruk dan untung-rugi demi sesuap nasi.
Februari 18, 2009 at 11:28 am
Soal buku terjemahan How We Think, kapan itu bisa didapatkan. I’ll be waiting…