Salah satu kendala juga yang saya hadapi adalah apa yang akan saya berikan untuk pelajaran matematika. Jalan pintas yang mudah dan dilakukan hampir semua orang adalah memakai buku pelajaran saja. Saya tidak mau memakai ini, dengan pengalaman buruk dahulu di sekolah. Oleh itu saya mencoba nyari-nyari di Internet.

Banyak homeschoolers di luar negeri menyarankan memakai buku dari Saxon Publisher. Sayang buku ini sulit untuk dicari, di Singapura gak ada, mesti mesen online. Harganya lumayan mahal lagi. Filosofi yang dibawa oleh Saxon, adalah incremental development, artinya matematika diajarkan dari yang paling sederhana, kemudian yang lebih sulit ditumpukkan di atasnya seperti membangun piramida. Dan setiap subjek dalam matematika tidak diajarkan secara terpisah seperti yang biasanya dipraktekkan, melainkan secara integral. Jadi misalnya sewaktu anak belajar trigonometri, ia juga mengerjakan soal di mana ia harus menggabungkan kemampuan trigonometri yang baru ia peroleh dengan skala peta misalnya, dengan mengerjakan segitiga dengan ukuran km.

Tapi sayangnya karena kesulitan memperoleh bukunya saya untuk sementara ini mencoba pendekatan lain, yaitu geometri murni. Siapa lagi yang bisa diacu selain mbahnya ilmu geometri, Euclid. Bukunya bisa didownload gratis.

Pendekatannya Euclid setelah dicobakan ternyata sangat berbeda dengan pengajaran geometri sekarang. Ia mengajarkan geometri TANPA ANGKA! Jadi kita berabstraksi dengan panjang dan luas. Alat yang dipakai hanya dua, penggaris tanpa skala dan jangka. Anak dengan pendekatan Euclidian dilatih untuk ngoprek semua konsep geometri yang terpikirkan oleh Euclid. Ia diajarkan bagaimana menggambar sudut siku-siku, membagi sudut menjadi dua sudut yang sama besar, membuktikan teorema Phytagoras tanpa memakai angka, menggambar segi lima sempurna, dengan hanya bermodalkan penggaris tanpa skala dan jangka. Pertama-tama agak sulit, tapi lama, bisa menikmati juga.

Iklan