Cikal bakal pendidikan klasik sebenarnya telah dibangun bahkan sebelum Sokrates berkeliaran di pasar Athena dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas yang memaksa orang untuk berpikir. Zeno dari Elea (abad ke-5 SM) telah mulai mengganggu orang dengan paradoks-paradoksnya, untuk memulai sebuah dialektika. Namun pendidikan klasik dengan trivium dan quadrivium baru dibakukan pada abad pertengahan. Istilah liberal arts sendiri pertama kali dipakai oleh Cassiodorus, seorang pejabat Roma pada abad ke-6. Ia memakai istilah ini untuk menggambarkan ketujuh cabang liberal arts yaitu trivium: gramatika, dialektika dan retorika, dan quadrivium: aritmatika, geometri, musik dan astronomi.

Bagian pertama adalah trivium. Trivium sendiri berasal dari kata tri (Latin: tiga) dan via (Latin: jalan), sehingga dapat diartikan “tiga jalan”. Tiga jalan (ungkapan yang lebih tepat adalah tiga tahap) yang dimaksudkan di sini ialah tiga jalan menuju pengetahuan. Jalan-jalan ini bukanlah pengetahuan, melainkan cara meraih pengetahuan. Tahap-tahap ini menggambarkan tahap-tahap perkembangan manusia, dari bayi sampai dewasa, dalam meraih pengetahuan. Perlu diingat bahwa trivium bukanlah mata pelajaran melainkan metodologi pembelajaran yang menjadi jiwa dari pelajaran yang diberikan. Bisa dilihat di bagian berikutnya bahwa mata pelajaran yang diberikan sesungguhnya tidak berbeda jauh dengan yang kita kenal. Perbedaannya terletak pada cara pembelajarannya.

Tahap yang pertama adalah gramatika, atau pengetahuan kongkrit. Pada masa ini manusia belajar dengan menghapal. Anak-anak berada pada tahap ini, sehingga kita dapat melihat mereka yang dengan mudah menghapalkan segala macam hal-hal baru yang diberikan pada mereka. Kita dapat melihat bahwa bayi dapat dengan mudah belajar bahasa yang diajarkan pada mereka. Tahap ini adalah tahap yang sangat penting karena di sinilah manusia mengumpulkan segala macam dasar yang akan dipakai pada tahap berikutnya.

Tahap yang kedua adalah dialektika, atau logika. Jika pada tahap gramatika kita mempelajari fakta, pada tahap ini kita mulai membuat hubungan antara satu fakta dengan yang lainnya. Hubungan-hubungan seperti sebab akibat mulai dipelajari dan dipertanyakan. Tahap ini dimulai dengan mengajukan pertanyaan “mengapa”. Kemampuan mengajukan pernyataan dan alasan serta menarik kesimpulan mulai dikembangkan. Di tahap inilah kemampuan abstraksi mulai dikembangkan. Biji yang telah ditanam pada tahap gramatika telah mulai berbunga.

Tahap yang ketiga adalah retorika, atau kemampuan berkomunikasi dan berekspresi. Pada tahap ini kita belajar menyusun fakta-fakta dengan logika yang benar untuk menyusun sebuah pemikiran. Pada tahap ini kemampuan abstraksi mencapai kemampuan tertingginya. Kita bisa mulai merambah area abu-abu maupun daerah yang belum pernah dieksporasi berbekal dengan pengetahuan yang telah diperoleh di tahap sebelumnya. Bunga dari tahap sebelumnya akan berkembang menjadi buah-buah yang bisa dinikmati, sebuah hasil perjuangan yang manis.

Ketiga tahap awal ini dapat digambarkan seperti pada permainan lego. Di tahap gramatika, kita berkenalan dengan bentuk lego yang bermacam-macam. Semakin banyak bentuk yang dikenal semakin kaya pengembangan pada tahap berikutnya. Di tahap dialektika, kita mulai mencoba memasang satu bentuk dengan yang lainnya, pas atau tidak. Eksplorasi adalah kata kunci di tahap ini. Trial-and-error dibantu oleh bimbingan guru akan semakin memantapkan tahap ini. Di tahap retorika, mulailah kita membuat bentuk-bentuk yang kita inginkan. Di sinilah kemampuan berekspresi diuji. Sintesis menjadi kata kunci di tahap ini.

Quadrivium, yang diberikan pada universitas di abad pertengahan dapat dijelaskan secara singkat seperti berikut ini. Quadrivium sendiri adalah ilmu sebagai subjek seperti yang dikenal sekarang. Aritmatika adalah ilmu yang mempelajari tentang angka pada dirinya sendiri. Geometri mempelajari tentang angka di dalam ruang. Musik mempelajari tentang angka di dalam waktu. Dan astronomi, yang sering dianggap sebagai ilmu tertinggi, adalah ilmu yang mempelajari angka di dalam ruang dan waktu. Teologi yang menjadi corak pendidikan gereja juga kerap dimasukkan ke dalam pendidikan sebagai pemberi tujuan.

Sejarah membuktikan bahwa pendidikan klasik telah menyediakan lahan yang subur sehingga setelah saatnya, Renaissance, Eropa menjadi tempat persemaian ilmu pengetahuan yang berkembang pesat sampai saat ini. Yang menjadi pertanyaan ialah apakah pendidikan klasik ini masih dapat diterapkan pada saat ini, mengingat kegagalan pendidikan modern yang hanya menciptakan manusia-manusia hamba dan robot. Untuk hal ini, dengan sedikit penyesuaian, pendidikan klasik dapat dijadikan alternatif untuk membawa perubahan di tengah jaman yang pragmatis ini. Charlotte Mason, seorang penggagas pendidikan klasik, memberikan banyak hal yang menjadi inspirasi dari tulisan ini.

Gramatika, yang menjadi dasar, dapat diberikan pada usia sekolah dasar, yaitu di usia 7-12 tahun. Yang pertama-tama perlu diperhatikan ialah pengajaran bahasa, karena kemampuan berbahasalah yang akan menyediakan medium untuk perkembangan ilmu yang lain. Bahasa ibu tentunya perlu mendapatkan prioritas. Kemampuan menulis dasar seperti penulisan kalimat yang baik dan membuat karangan sederhana juga perlu ditekankan. Bahasa Inggris juga perlu diberikan sebagai bahasa kedua sejak dini, mengingat peranan bahasa Inggris sebagai bahasa internasional yang semakin penting, khususnya setelah era Internet. Di Indonesia, hal ini menjadi semakin relevan mengingat sebagian besar literatur masih berbahasa Inggris. Yang kedua adalah kemampuan matematika, yang akan dijadikan dasar pijakan ilmu-ilmu pasti di kemudian hari. Kemampuan aritmatika tentunya menjadi pilihan utama. Yang ketiga ialah pengembangan kesadaran, melalui pelajaran sejarah dan geografi. Di sini anak diperkenalkan dengan fakta-fakta sejarah dan geografi, melalui cara yang menyenangkan seperti bercerita dan melihat gambar. Pengembangan kesadaran ini akan memberikan rasa identitas kepada anak, yang akan memberikan landasan awal untuk bertolak pada tahap berikutnya. Yang terakhir adalah pengembangan keingintahuan, melalui pelajaran ilmu alam. Anak di sini diajak untuk menjadi seorang pengamat dan pencatat yang baik. Fakta-fakta dasar yang telah teruji kebenarannya, seperti gravitasi dan evolusi juga perlu diberikan kepada anak didik. Musik dan seni lainnya juga dapat diajarkan untuk mengasah nilai rasa dan estetika anak. Kemampuan anak di usia ini yang mampu menyerap segala macam hapalan harus dimanfaatkan sejauh mungkin untuk menyerap dasar-dasar ilmu. Hal ini menjadi kritis karena bahan-bahan yang diberikan akan sangat mempengaruhi perkembangan anak di tahap yang lebih lanjut.

Dialektika adalah tahap di usia sekolah menengah pertama. Di tahap ini, logika sebagai sebuah ilmu tersendiri perlu diperkenalkan. Subjek yang diberikan sebenarnya masih sama dengan tahap gramatika. Yang membedakan adalah cara belajarnya. Pertanyaan “mengapa” dan “bagaimana” harus ditumbuhkembangkan di tahap ini. Matematika, misalnya, sudah bisa mulai memasukan aljabar dan geometri. Studi sejarah dan geografi perlu melibatkan komparasi dan relasi, ketimbang sekedar kronologis maupun spasial. Ilmu-ilmu sosial lain bisa mulai diperkenalkan sebagai kelanjutan logisnya. Ilmu-ilmu alam diajarkan dengan pemahaman hukum-hukum alam dan penjelasan logisnya. Metode ilmiah perlu diperkenalkan secara formal dalam menarik kesimpulan. Anak didik juga perlu mulai diperkenalkan dengan literatur-literatur klasik, baik lokal maupun dunia. Dan bukan hanya sekedar membaca, mereka juga harus menangkap pemikiran-pemikiran yang diusung oleh penulis-penulis literatur tersebut. Bahasa internasional lain seperti Jerman, Prancis, Spanyol, Arab maupun Mandarin bisa diajarkan untuk memperluas literatur yang dapat dibaca. Untuk anak yang sangat berbakat, pengajaran bahasa Latin dan Yunani bisa menjadi bahan pertimbangan. Kemampuan menulis secara utuh juga mulai diajarkan. Kemampuan menulis esai maupun fiksi dapat dijadikan sebagai sebuah tonggak keberhasilan di tahap ini. Diskusi dan debat dapat dipakai selanjutnya untuk mengasah kemampuan logika mereka.

Di tahap retorika, tahap usia sekolah menengah atas, anak didik diharapkan sudah mampu melakukan sistesis dari apa yang telah mereka sebelumnya. Matematika, ilmu alam dan ilmu sosial bukan lagi pelajaran yang terpisah melainkan satu. Sejarah dan geografi juga diintegrasikan untuk memberikan nilai humanisme. Ilmu filsafat sebagai ibu dari semua ilmu sudah bisa diperkenalkan. Literatur-literatur tingkat lanjut diharapkan dapat memperkaya wawasan mereka. Kemampuan memilah informasi, mana yang penting dan tidak penting, mana yang relevan dan tidak relevan, menjadi kegiatan sehari-hari. Kemampuan orasi dan menulis diharapkan telah mencapai tahap tertinggi. Sebagai sebuah tonggak final, anak diharapkan dapat membuat sebuah tulisan komprehensif mengenai sebuah topik, yang kemudian diujikan di depan pengajar. Keberhasilan mempertahankan tulisannya akan menjadi tanda kelulusannya dari trivium.

Liberal arts, yang mengusung kata liberal yang berarti membebaskan, khususnya setelah trivium diharapkan dapat membentuk anak didik yang:

(1)   mampu membaca dan menyimak dengan baik

(2)   mampu berpikir dengan jernih dan mengekspresikan dirinya secara persuasif

(3)   mampu menempatkan dirinya dalam ruang, waktu, dan budaya dalam relasinya dengan dunia luar

(4)   mampu mengapresiasi dan belajar dari perbedaan antara dirinya dan orang di tempat dan masa yang berbeda

(5)   mampu menikmati keindahan yang terpapar di hadapannya

(6)   mampu belajar secara mandiri dan berkelanjutan, dengan menggunakan lima kemampuan di atas

(7)   mengevaluasi dan mengarahkan semua ilmu yang dipelajarinya menuju ke kebenaran sejati (Wes Callihan, dalam Schola Classical Tutorials).

Quadrivium, sebagai dasar pendidikan tinggi memuat modal lanjutan untuk pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi awal (strata satu) perlu dikembalikan sebagai sarana untuk mencetak doktorandus, atau calon doktor. Pendidikan liberal arts justru tidak mengkotak-kotakkan ilmu seperti kecenderungan umum sekarang. Mahasiswa meneruskan trivium dengan menambah amunisi baru untuk pertempuran berikutnya. Amunisi lanjut ini ialah matematika, fisika, kimia, biologi, antropologi, sosiologi, psikologi, sejarah, filsafat, bahasa asing, atau ilmu-ilmu murni lainnya. Dalam empat tahun (mengikuti tradisi quadrivium) mahasiswa menyelesaikan semua ilmu murni ini pada tahap elementer. Studi ini akan ditutup dengan sebuah ujian komprehensif untuk menguji penguasaan mahasiswa atas masing-masing subjek. Kelulusan akan menjadi sebuah tonggak kesiapan mahasiswa untuk menjadi seorang kandidat doktor, meninggalkan masa magang (apprenticeship) untuk memulai petualangannya sendiri di belantara ilmu pengetahuan.

Manusia-manusia yang dilahirkan dari pendidikan klasik ini, setelah melalui jalan yang panjang, diharapkan memiliki kemampuan sebagai penerus peradaban manusia dan membawa umat manusia ke masa depan yang lebih baik.

Satu Tanggapan to “Apakah itu Pendidikan Klasik”

  1. narita Says:

    pada dasarnya tujuan pendidikan (menurut pendidikan Islam) itu adalah untuk menjadikan insan kamil manusia yang sempurna sehingga dapat berguna di dunia dan selamat di akhirat. Sedangkan sekolah atau hs hanyalah salah satu cara untuk pencapaian tujuan tersebut.

    mbok yach sekarang jamannya dunia dah terbuka luas….jadi apabila ada yang mengambil keputusan untuk mendidik anaknya dengan cara hs, sudah semestinya pemerintah memfasilitasi. sekian terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s