Kita sering mendengar pepatah: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah”. Lalu Bung Karno sendiri pernah berpidato tentang Jasmerah: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Biasanya hal ini dikatakan dalam perspektif nasionalisme, di mana keberlangsungan hidup dan kejayaan bangsa menjadi fokus. Historical approach tidaklah jauh berbeda dengan hal di atas, hanya saja dengan perspektif yang lebih luas yaitu perspektif umat manusia di muka bumi ini, tanpa kotak bangsa, dan bentangan sejarah yang panjang, sejak Homo sapiens berjalan di muka bumi sampai saat ini. Dan kita juga mencoba meneropong masa depan dari posisi saat ini. Yang menjadi fokus adalah peradaban manusia itu sendiri, yaitu kelangsungan hidup species manusia di bumi kita yang hanya satu-satunya ini.

Apakah itu historical approach? Historical approach adalah sebuah cara untuk menempatkan diri pada ruang dan waktu di dalam sejarah peradaban manusia. Caranya tidak lain adalah dengan mempelajari sejarah sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak terkotak oleh batas-batas politik dan agama, bahkan batasan waktu.  Dengan ini diharapkan kita dapat mengembangkan sebuah rasa “memiliki dan menjadi manusia” .

Apa yang ingin dicapai melalui pendekatan ini?

1.            Kesadaran (awareness), bahwa kita yang ada saat ini adalah suatu produk sejarah jutaan tahun. Kita tidak lagi melihat hidup ini sebagai sesuatu yang take it for granted. Mengapa kita harus pakai celana? Karena memang begitulah adanya. Ribuan pertanyaan seperti di atas dapat dijawab begitu saja, karena memang begitulah adanya. Di sinilah terjadi sebuah pemutusan rantai sejarah. Kita hanya hidup pada rantai terakhir tanpa mengetahui rantai awal dan tengah. Semua aspek kehidupan saat ini diwarnai oleh hilangnya kesadaran sejarah. Hak milik, hak asasi, gender, hukum, pajak dan masih banyak lagi telah menjadi sesuatu yang telah ada begitu saja, bahkan melebihi agama. Rasanya lebih banyak orang mengkritisi agama dari pada mengkritisi konsep hak milik. Dengan mempelajari sejarah kita akan dibawa dari awal untuk menyaksikan seluruh perkembangan sejarah manusia, kemajuannya dan juga keruntuhannya.

2.            Kepenuhan (wholeness), yang merupakan kelanjutan dari kesadaran. Ini bisa digambarkan sebagai berikut: kita lahir bersamaan dengan kelahiran sejarah umat manusia, dan tumbuh bersama dengan perkembangan sejarah. Kejayaan Romawi, dengan Pax Romana-nya, bukanlah masa lampau nenek moyang kita melainkan masa muda kita. Revolusi Prancis dan revolusi industri adalah masa perkembangan kita juga. Perang dunia pertama dan kedua adalah krisis kita juga. Semuanya itu kita jalani seperti halnya hidup kita sendiri. Kita menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah itu sendiri, karena kita sendiri adalah juga bagian dari sejarah.

3.            Kebersamaan (unity), bahwa kita semua adalah bagian dari peradaban. Suka tidak suka, kita hidup di dalamnya. Kita punya pilihan: larut di dalamnya, atau merasakan kebersamaan itu. Nasib dunia kita rasakan juga sebagai nasib pribadi. Perasaan ini dapat disamakan dengan altruisme, yaitu merasakan kesatuan sebagai umat manusia. Dengan kata lain sejarah dapat membuat kita satu, karena sesungguhnya kita memang tidak terlalu berbeda. Perasaan ini dapat diperkuat dengan menyadaari kenyataan bahwa kita hidup bersama di bumi yang satu. Kesakitan satu orang sesungguhnya adalah kesakitan seluruh bumi. Kelaparan di Ethiopia adalah juga kelaparan kita. Perang di Iraq juga membunuh saudara-saudari kita, baik di pihak Amerika maupun Iraq.

4.            Tanggungjawab (responsibility), bahwa kita semua bertanggung jawab atas masa depan umat manusia. Kehidupan anak cucu kita nantinya adalah juga kehidupan kita. Rasa tanggung jawab ini tak lain adalah karena kita hanyalah pembawa tongkat estafet peradaban, seperti halnya juga pendahulu-pendahulu kita. Garis finish masih jauh, yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan sebaik-baiknya di era kita dengan segala kelebihan dan kekurangan kita. Kita harus memperbaiki kekurangan pendahulu kita dan merintis jalan yang lebih mulus untuk generasi penerus kita.

Hanya dengan sebuah kesadaran akan sejarah, kita akan menjadi sebuah manusia yang menyejarah. Tanpa itu kita belumlah utuh menjadi seorang manusia. Inilah yang akan membuat gerak maju pada peradaban manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s