Pendidikan saat ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari modernisasi. Prinsip-prinsip modernisme seperti efisiensi dan produktivitas terlihat dalam praktek-praktek pendidikan. Setiap hari kita mendengar tentang iptek dan pembangunan, dan melupakan humanisme. Dengan demikian, pendidikan hanyalah menjadi hamba, dan kehilangan fungsinya sebagai penuntun manusia.

Perubahan besar hanya bisa dilakukan melalui perubahan paradigma. Hal yang sama berlaku pada pendidikan. Untuk bisa membuat sebuah pembaharuan pendidikan yang benar-benar bermakna bagi kemanusiaan, kita tidak bisa melakukannya sekedar dengan mengubah kurikulum, apalagi kalau hanya dengan sekedar mengganti buku pelajaran. Tanpa perubahan paradigma, kita hanyalah melakukan sebuah proyek tambal sulam, yang tidak bermakna apa-apa.

Paradigma yang pertama adalah kesadaran sejarah (historical awareness). Kesadaran sejarah adalah sebuah kesadaran untuk menempatkan diri dalam ruang dan waktu saat ini. Ada dua dimensi dalam kesadaran ini yaitu dimensi ruang dan dimensi waktu. Dimensi ruang berarti kesadaran akan tempat di mana ia berada. Ia juga sadar akan relasinya dengan tempat di sekitarnya dan di mana tempatnya di dunia ini. Dimensi waktu berarti kesadaran akan masa di mana ia berada. Kesadaran ini memberikan tahu dari mana ia berasal dan bagaimana posisinya saat ini. Kesadaran yang utuh akan dapat menjawab pertanyaan tentang siapa aku dan di mana aku berada. Kesadaran ini memberikan identitas dan pijakan awal baginya. Dan yang paling penting adalah menumbuhkan sebuah pertanyaan di lubuk hati, “Kemanakah aku akan melangkah?”

Paradigma kedua adalah buku yang dipakai. Buku sendiri adalah merupakan catatan dari sejarah perkembangan peradaban manusia. Buku apa yang dipakai akan memberikan perspektif yang berbeda tentang dunia dan sejarahnya. Charlotte Mason, seorang penganjur pendidikan klasik, menyarankan untuk menggunakan “buku asli” ketimbang text-book. “Buku asli” adalah buku yang ditulis untuk menjelaskan sebuah ide, tidak seperti text-book yang dirancang untuk suatu tingkat dalam pendidikan. Buku jenis ini akan membuat Anda berpikir, tidak seperti text-book yang memang didesain untuk menuntun Anda. Dan yang terpenting adalah Anda akan dapat merasakan jiwa sang penulis di dalam buku yang ditulisnya. Sebagai contoh: belajar ekonomi klasik langsung dari “Wealth of Nation”-nya Adam Smith, belajar teori evolusi dari “Origin of Species”-nya Charles Darwin, belajar teori relativitas dari “Principle of Relativity”-nya Albert Einstein.

Paradigma yang ketiga adalah peranan guru. Guru bukanlah menjadi seorang yang bertugas mencangkokkan sebuah pikiran kepada anak didik. Guru adalah seperti tukang kebun yang membersihkan, menyiangi, menyirami, bila perlu memberi pupuk untuk tunas-tunas muda di kebunnya. Guru yang baik haruslah menyediakan iklim yang baik bagi setiap anak didiknya supaya mereka dapat bertumbuh dengan baik. Guru adalah seorang pembimbing yang menuntun anak didiknya untuk menjadi dirinya sendiri. Hal ini adalah kesulitan sekaligus tantangan, karena setiap anak didik tidak dapat diperlakukan sama seperti halnya di dalam pendidikan massal saat ini.

Paradigma yang keempat adalah pelajaran itu sendiri. Di dalam pendidikan klasik pelajaran tidak terbagi secara kaku ke dalam mata pelajaran-mata pelajaran. Ketika sedang belajar sejarah misalnya, kita bisa saja sekaligus mempelajari kosa kata yang sulit, atau membuat time-line seperti pada garis bilangan dan menghitung kurun waktu beberapa kejadian. Pelajaran tidak harus dibagi secara ketat ke dalam mata pelajaran, melainkan ke dalam topik-topik. Topik-topik tersebut dapat disusun sedemikian rupa membentuk sebuah sistem yang mengintegrasikan semua bahan yang akan dipelajari.

Paradigma yang kelima adalah cara penilaian. Sistem penilaian saat ini terlalu menekankan pada kompetisi, dengan harapan menumbuhkan kreativitas. Efek lain dari kompetisi, yaitu mematikan potensi anak yang kalah bersaing, tidak terlalu diperhatikan. Penilaian dapat dilakukan dengan membuat portfolio, sebagai catatan akan apa yang telah dilakukan oleh anak didik selama masa tertentu. Isinya bisa berupa karangan, riset kecil-kecilan atau apa saja yang ingin dibuat olehnya. Jurnal pribadi juga dapat dimasukkan sebagai portfolio. jurnal pribadi adalah hasil-hasil dari pemikiran mereka setelah membaca sebuah buku, yang tentunya berbeda pada tiap orang. Sistem ini lebih menghargai potensi individual ketimbang sistem biasa yang menekankan standardisasi.

Yang menjadi kata kunci dari semua paradigma di atas adalah holistik, integralistik dan penghargaan individu. Pendidikan bukanlah sebuah kegiatan terpisah dari sebuah masyarakat yang mengkhususkan diri untuk mendidik. Pendidikan bukanlah sebuah spesialisasi melainkan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kemasyakatan. Sebagai akibatnya, seluruh anggota masyarakat sebenarnya adalah guru, dan pendidikan bukan hanya di sekolah. Tanggung jawab pendidikan bukan hanya di tangan Departemen Pendidikan dan guru-guru, melainkan di tangan kita semua terlebih di tangan orang tua.

Fungsi masyarakat sebagai pendidik akan melahirkan sebuah pemikiran yaitu pendidikan berbasis komunitas. Hal ini adalah kesimpulan logis, karena komunitaslah yang tahu apa yang terbaik untuk diri mereka. Pendidikan tidak melupakan tradisi dan kearifan lokal, sesuatu yang sudah tergerus di jaman modernitas ini yang mengusung standardisasi. Pendidikan ini harus memanfaatkan sebesar-besarnya potensi lokal dan juga memberikan sumbangan yang berarti bagi komunitasnya. Dan yang tak boleh dilupakan adalah prinsip kemandirian masing-masing komunitas, sehingga tidak terjadi hegemoni oleh pemikiran satu komunitas kepada yang lain.

Pengembangan pendidikan yang berbasis lokal akan melahirkan pluralisme. Orang nampaknya telah melupakan bahwa salah satu hal yang membuat species kita dapat bertahan adalah pluralisme. Kemajuan, hanyalah dapat muncul dalam pluralisme, di mana unsur-unsur yang berbeda dapat melakukan diskursus untuk menghasilkan sesuatu yang lebih baik.

Dengan mengubah paradigma, untuk mengembalikan pendidikan ke fungsi asalnya, nampaknya peradaban ini masih punya harapan, khususnya dalam konteks Indonesia. Meskipun demikian dibutuhkan kerja keras dan komitmen untuk membuat sebuah perubahan berarti. Mengubah paradigma bukanlah pekerjaan yang dapat selesai dalam setahun dua tahun. Mengubah paradigma adalah pekerjaan yang dihitung dengan generasi. Apa lagi modernitas sudah tertanam begitu dalam di dalam diri kita berkat media audio visual yang menggaungkannya setiap jam.

Mungkin tidak terlalu salah jika kita mengutip Bung Karno yang berkata “Berikan aku sepuluh pemuda yang bersemangat dan akan kuubah nasib bangsa ini!” Ya, kita butuh sekolompok orang, walaupun kecil yang mau menumpahkan keringat demi membangun kembali bangsa ini dari keterpurukan. Dan itu akan kita mulai dengan membangun landasan yang paling bawah, yaitu pembangunan manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s