Pendidikan, seperti yang telah kita ketahui bersama, telah menjadi sebuah kenyataan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Manusia adalah species yang mengalami prolonged-childhood, berbeda dengan species lainnya. Prolonged-childhood ini adalah cara yang dipakai manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sebagai species dan sejarah membuktikan (paling tidak sampai saat ini) bahwa manusia adalah species yang paling sukses. Selama masa prolonged-childhood ini, anak-anak dibebaskan dari kewajiban mempertahankan hidupnya, dan menjadi tanggungan manusia dewasa, yaitu orang tuanya. Keuntungan ini, berupa energi dan waktu luang sang anak, didedikasikan untuk belajar, sebagai sebuah proses mempelajari budaya manusia yang nantinya akan dipakai sebagai sebuah alat penjamin kelangsungan hidupnya dan kelompoknya. Budayalah, bukan gen, yang telah membuat manusia begitu adaptif terhadap segala perubahan alam. Untuk itulah pendidikan menjadi sebuah keharusan demi eksistensi manusia di muka bumi ini.

Pendidikan kita saat ini, pendidikan modern, adalah sebuah alat yang dipakai untuk belajar bagaimana mempertahankan hidup di jaman ini. Semua pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan jaman ini. Anak-anak sekarang sejak dini telah diperkenalkan dengan komputer, karena komputer telah menjadi sebuah identitas baru di era ini. Kita juga belajar hukum untuk mematuhinya (dan juga berkelit darinya). Kita belajar ekonomi untuk mengerti bagaimana uang berputar di jaman ini. Kita juga sering mendengar jargon seperti link-and-match yang menginginkan lulusan perguruan tinggi untuk bisa langsung diserap oleh industri. Sungguh, pendidikan sekarang adalah anak emas dari jaman ini. Sebagai anak yang baik pendidikan harus menyiapkan sekrup, mur dan oli supaya mesin dunia ini dapat berjalan dengan lancar. Pendidikan mengajar anak-anak didik how to fit into this world. Anak-anak dibekali dengan segala keahlian yang akan dibutuhkan mereka di dunia kerja: akuntansi, teknik, ilmu medis, hukum, dan lain-lain. Pendidikan untuk menjawab kebutuhan jaman menjadi skill-oriented.

Adakah yang salah dengan ini? Ya! Pendidikan telah mengkhianati tujuan asalnya, yaitu mempersiapkan manusia untuk menghadapi tantangan perubahan di masa depan. Pendidikan bukan lagi menjadi penerang jalan bagi peradaban tetapi telah menjadi hamba untuk mempertahankan suatu jaman, suatu sistem status quo. Apakah yang bisa diharapkan dari pendidikan semacam ini? Kita semua hanya akan masuk ke jurang seperti sebuah juggernaut yang lepas kendali, meminjam istilah Giddens, tanpa ada yang mengingatkan. Pendidikan, sebagai hamba jaman ini, jaman kapitalis, telah diperbudak oleh pemilik jaman ini, yaitu pemilik kekuasaan alias pemilik modal. Pendidikan tidak menyiapkan kita bagaimana menjadi manusia, melainkan menjadi alat, menjadi sekedar sebuah “sumber daya manusia”.

Anda mungkin protes bahwa pendidikan saat ini jauh lebih maju dari pada jaman dulu. Di jaman dulu orang tidak bisa membuat mobil, pesawat dan ‘handphone’. Sekarang kemajuan teknologi telah mempermudah seluruh sendi kehidupan kita, berkat pendidikan. Nanti dulu. Kalau Anda berkata bahwa pendidikan saat ini lebih baik, tentunya manusia di jaman ini lebih mampu berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis tentunya membuat mereka mampu untuk berpikir sendiri bebas dari pengaruh luar. Lalu untuk apa budget iklan yang mungkin trilyunan dollar setiap tahun dihamburkan untuk membujuk orang yang mestinya mampu “berpikir kritis”. Anda mungkin juga berargumentasi bahwa kita sekarang tahu lebih banyak dibandingkan dengan jaman dahulu. Ingat, mengetahui lebih banyak tidak berarti mengetahui dengan lebih baik. Bisa mengoperasikan handphone dengan fitur MMS, voice mail, GPRS atau entah apa lagi namanya tidak membuat Anda seorang manusia yang lebih baik, apalagi lebih bijak.

Selain itu seiring tuntutan jaman, pendidikan saat ini bukan hanya tidak mempersiapkan anak menjadi manusia utuh, melainkan juga telah merenggut anak dari kesukacitaan belajar. Berapa banyak anak yang tidak sabar untuk berangkat ke sekolah karena semata-mata menyenanginya. Tak aneh kalau banyak anak yang bunuh diri seperti halnya di Jepang dan Singapura karena tekanan dari kurikulum dan orang tua yang begitu intens. Tuntutan ini tak lain ialah tuntutan jaman yang makin kompetitif dan ketidakmampuan bertahan berarti tersingkir.

Marilah terlebih dahulu kita melihat bagaimana pendidikan di jaman Yunani kuno. Pendidikan pada jaman itu bukanlah seperti pendidikan saat ini. Anak-anak muda belajar di jalanan. Simonides dalam salah satu syairnya berkata, “Kota mengajar manusia”. Mereka belajar geografi dengan mendengarkan obrolan pedagang yang baru kembali dari tanah seberang. Mereka juga belajar berbagai keahlian, seperti pandai besi dan pertukangan kayu, dengan memperhatikan, karena di jaman itu orang mengerjakan segala sesuatu di depan rumahnya masing-masing. Mereka belajar politik dengan mendengarkan perdebatan orang di agora (pasar), mengenai harga barang, pajak dan lain-lain, dan orang Yunani memang senang berdebat. Nampaknya mereka belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dibandingkan kita. Selanjutnya di Yunani muncullah kaum Sofis yang memperkenalkan metode baru dalam pendidikan, yaitu orasi dan retorika. Mereka memanfaatkan kefasihan lidah mereka beragumentasi untuk menjelaskan suatu isu. Sayangnya mereka bukanlah pelayan kebenaran, melainkan pelayan diri sendiri, yang memanfaatkan kelebihan mereka untuk mencari uang dan kedudukan. Hingga suatu saat di antara mereka muncullah Sokrates di Athena, seorang yang pandai berdebat namun juga tertarik pada yang benar. Ia mampu mengalahkan para Sofis dalam perdebatan umum di pasar. Sokrates, yang mendapatkan julukan orang paling bijak di Yunani, mengubah metode pendidikan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas kepada pemuda-pemuda yang mengikutinya, untuk memaksa mereka berpikir. Dan salah satu pengikutnya, Plato, akhirnya mendirikan sebuah sekolah, yang sebenarnya tidak lebih dari tempat kumpul-kumpul di sebuah taman bernama Akademos, sehingga sekolahnya diberi nama Akademia. Di sana mereka berargumen mengenai perihal alam, negara dan apa saja yang terpikirkan oleh mereka, meneruskan tradisi yang telah dibangun oleh Sokrates. Salah satu murid Plato, Aristoteles, juga mendirikan sekolah dengan semangat yang kurang lebih sama meskipun dengan filsafat yang berbeda, bernama Lyceum. Kedua sekolah inilah yang menjadi landasan sebagian besar pemikiran di dunia hingga saat ini.

Jaman Roma, setelah Yunani ditaklukkan, mulai ditandai dengan merosotnya idealisme pendidikan. Pendidikan gaya Graeco-Roman menjadi lebih pragmatis, yang hanya ditujukan untuk melahirkan bukan lagi pemikir-pemikir, melainkan hanya untuk menjadi pelayan penguasa, sesuatu yang sangat dikutuk oleh Plato. Memang patut diakui bahwa ilmu teknik berkembang dengan pesat di masa itu, ditandai dengan pembangunan di mana-mana. Namun di lain pihak jumlah pemikir makin berkurang, hanya tersisa pada individu-individu tercerahkan seperti Marcus Aurelius dan Cicero. Akhirnya Roma pun keropos dengan sendirinya, dan sebuah penaklukan dari bangsa lain hanya tinggal menunggu waktu saja.

Selanjutnya seperti kita ketahui, semenjak Roma jatuh ke bangsa barbar, Eropa mengalami masa suram. Pendidikan menjadi hak elit gereja, yang menjadi penjaga peradaban. Pendidikan pun mengalami masa dorman berabad-abad lamanya. Teks-teks Platonik dan Aristotelean dilarang karena dianggap tulisan kafir. Pendidikan hanya diarahkan pada teologi, dengan inti studi kitab suci. Sementara itu secara diam-diam dan sistematis, kekayaan intelektual Yunani kuno, khususnya sekolah Aristoteles, berpindah ke Arab dan akhirnya berkembang luar biasa di sana. Dunia Arab boleh dikatakan menjadi pionir dalam kemajuan filsafat dan ilmu pengetahuan di masa itu.

Pendidikan akhirnya kembali berkembang di Eropa, khususnya di Italia, setelah gerakan Renaissance. Renaissance sendiri adalah salah satu akibat yang dibawa oleh Perang Salib, yang memungkinkan berpindahnya kembali kekayaan intelektual kuno ke tanah Eropa. Universitas pertama pun berdiri sekitar tahun 1158 di Bologna, yang berpusat pada studi hukum. Setelah itu menyusul di Paris dengan studi seni dan teologi. Eropa pun kembali berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan yang luar biasa, sementara dunia Arab kembali suram. Kembalinya tongkat estafet ilmu pengetahuan dari Arab, perlahan namun pasti melahirkan sebuah generasi baru. Seorang bernama Copernicus, yang menumbangkan teori geosentris, memulai sebuah revolusi di Eropa. Nama-nama besar berikut yang terinspirasi olehnya membuat gebrakan yang tak pernah dibayangkan oleh masa sebelumnya. Dan Eropa (plus Amerika) sampai saat ini pun menjadi kiblat ilmu pengetahuan.

Sebuah perkembangan lain terjadi di Prusia (cikal bakal Jerman), yang akan kita rasakan sampai saat ini. Dalam kurun 1713-1786 beberapa legislasi dikeluarkan yang mewajibkan anak-anak untuk sekolah, nasionalisasi sekolah, melarang pendidikan privat (di rumah), sertifikasi pengajar, konsep jam pelajaran (±45 menit-1 jam), mata pelajaran, uang sekolah, subsidi pendidikan, dan ujian. Pendidikan kembali lagi, seperti halnya jaman Romawi Kuno, menjadi hamba pemerintah. Pendidikan ditujukan untuk menghasilkan kaum profesional, untuk memenuhi kebutuhan akan tenaga profesional di semua sektor. Jerman pun berkembang menjadi sebuah bangsa yang terkenal profesionalisme sampai saat ini. Ilmu pengetahuan direduksi menjadi sebuah mata pelajaran, mengesampingkan pendekatan holistik yang menjadi ciri pendidikan klasik. Ciri-ciri sekolah model Prusia inilah yang menjadi ciri pendidikan modern hingga saat ini, yang mengusung profesionalisme, spesialisasi dan pragmatisme. Model pendidikan ini bukannya berjalan tanpa kritik. Ralph Waldo Emerson, seorang pujangga dan penulis esai dari Amerika, mengkritik kebijakan pemerintahnya yang mengirim sekitar 9000 orang untuk belajar di Jerman, yang ditujukan untuk menghasilkan tenaga-tenaga ahli yang akan menjadi penggerak pembangunan di Amerika. Ia berkata bahwa “seorang manusia haruslah menjadi manusia yang baik terlebih dahulu sebelum ia menjadi petani, tukang dan insinyur yang baik.”

Anda boleh mengatakan bahwa saya adalah seorang reaksioner atau laudator temporis acti (pemuja masa lampau). Namun saya mohon renungkanlah lebih jauh kenyataan-kenyataan saat ini dan katakanlah dengan jujur apakah benar peradaban ini menuju ke arah yang lebih baik. Kemajuan di sana sini memang membuat kehidupan kita lebih mudah. Tapi di lain pihak kita juga semakin jauh dari hakikat kita sebagai seorang manusia yang utuh. Kehidupan menjadi semakin artifisial. Dan semuanya ini hanyalah akan membawa kita ke kehancuran. Pemanasan global, polusi alam, kepunahan species-species, dan penjajahan ekonomi hanyalah sedikit contoh dari seluruh masalah di muka bumi ini. Bumi kita ini sedang sekarat. Kiranya bukan mustahil bahwa kiamat nantinya disebabkan sendiri oleh umat manusia.

Iklan

Satu Tanggapan to “Sebuah Perspektif Sejarah untuk Pendidikan Klasik”


  1. jd begitu yah… nyesel baru tertarik baca sekarang mah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s