Mula-mula yang dikembangkan adalah dialektika. Dialektika tercatat pertama kali dipopulerkan oleh Zeno dari Elea (abad ke-5 SM) dengan menunjukkan paradoks-paradoks pada lawan bicaranya. Sokrates dan Plato kemudian makin memantapkannya dalam dialog-dialog mereka. Kesimpulan ditarik dengan cara berpikir yang logis dan sistematis dari premis-premis. Aturan-aturan penarikan kesimpulan disusun. Retorika berkembang dibawa oleh para Sofis, yang dimotori oleh Gorgias dari Sisilia. Retorika sendiri ialah kemampuan bersilat lidah, yang sebenarnya lebih merupakan seni ketimbang sebuah disiplin. Sokrates tidak menyukai ini, lalu mengarahkan retorika untuk mempertahankan hal-hal yang baik. Aristoteles kemudian memantapkannya dalam sebuah tulisan berjudul “Retorika”. Yang terakhir berkembang adalah gramatika, karena para filsuf besar Yunani seperti Plato dan Aristoteles sendiri tidak terlalu memberikan perhatian pada gramatika. Mereka lebih memberi perhatian pada hal yang lebih besar yaitu apakah kata memiliki hubungan yang natural dan teratur. Hubungan itu dapat digambarkan sebagai analogi (hubungan yang pasti antara kata) dan anomali (hubungan yang tidak pasti antara kata). Kaum Stoik lalu memperluas pemikiran Plato dan Aristoteles dalam bidang ini. Tulisan-tulisan inilah yang nantinya dikompilasi oleh Dionisius Trax dari Alexandria dalam sebuah traktat berjudul Grammatikē Tekhnē. Sekolah Alexandria sendiri lebih tertarik pada literatur ketimbang filosofi, yang memahami gramatika sebuah ilmu mulia untuk memahami keindahan literatur-literatur. Jadilah Alexandria sebagai sekolah gramatika pertama.

Semua warisan jaman Yunani ini berkembang lebih lanjut di Roma melalui tangan-tangan dingin seperti Cicero dan Quintilian. Baru pada abad ke-6 Cassiodorus bersama dengan Boethius menyusun Institutiones divinarum et humanarum litterarum, yang didalamnya memuat ketujuh cabang liberal arts, yang kelak akan dipakai sebagai dasar pendidikan bagi para biarawan di abad pertengahan. Sebagaimana kita ketahui, tongkat estafet pendidikan dipindahkan ke tangan para biarawan di masa ini. Pendidikan berada langsung di bawah katedral, seperti dapat dilihat pada pemerintahan raja-raja Carolingian yang pada sekitar abad ke-8 memerintahkan setiap katedral dan biara untuk mendirikan sekolah, cikal bakal universitas-universitas di Eropa berabad-abad kemudian. Runtuhnya dinasti Carolingian pada abad ke-10 membuat gereja memonopoli sistem pendidikan. Meskipun pengetahuan tidak berkembang banyak di jaman ini, mereka dengan tekun menyalin semua teks-teks kuno yang  nantinya akan sangat berguna berabad-abad kemudian di masa Renaisannce. Gereja memang bukan pengembang ilmu yang baik, namun mereka adalah penjaga yang baik. Tanpa mereka warisan dari jaman Yunani dan Romawi kuno tidak akan sampai ke tangan kita saat ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s